Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analisis Gaya Hidup Penduduk Kota Sanana (Sula)

Dalam kajian sosiologi, perihal konsumsi tidaklah hanya dipandang sekedar proses pemenuhan kebutuhan bersifat fisik dan biologis manusia semata, tetapi berkaitan juga dengan aspek-aspek sosial beserta budaya. Semisalnya konsumsi yang berkaitan dengan persoalan identitas, selera atau gaya hidup.

Merujuk pada kata selera, selera menurut kajian ekonomi dipandang sebagai suatu yang stabil, dan difokuskan pada nilai kegunaan yang dibentuk secara individu, dengan kata lain dipandang sebagai sesuatu yang bersifat eksogen. Sedangkan menurut kajian sosiologi, selera adalah suatu yang dapat berubah yang di fokuskan pada suatu kualitas simbolik suatu barang. Dengan kata lain, tergantung persepsi atau selera masing-masing.

Manusia secara lahiria mempunyai keterbatasan dan kelemahan-kelemahan manusiawi yang menjadikannya cacat insani yang disebut ketidaksempurnaan. dari faktor inilah yang menjadi penyebab manusia akan selalu jatuh atau diperhadapkan dengan ujian, cobaan, hambatan, rintangan dan godaan duniawi. Dimana bentuk godaan terbesar dewasa ini adalah Gaya Hidup (life style) di era modern yang tentunya mempengaruhi sikap, perilaku dan perbuatan serta tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan zaman. Zaman yang didasarkan pada kemampuan akal Budi atau ratio.

Berkaitan dengan Gaya hidup, menurut A.B Susanto 2001) terbentuknya gaya hidup masyarakat modern di kota metropolitan itu merujuk pada.

Pertama, Status, status dijadikan sebagai sesuatu yang penting, artinya status bahwa status seseorang ditandai dengan penampilan dan segala yang dipakainya. Seperti, telepon seluler, mobil, rumah megah dan peralatan hidup yang serba mewah.

Kedua, Mobilitas yang Tinggi, maksudnya segala kegiatan bisnis yang sangat padat yang tidak bisa dibatasi faktor jarak, waktu, tempat dan negara. Misalnya aktivitas bersambung seperti, pagi di Papua siang telah berada di Jakarta dan besoknya sudah di Australia.

Ketiga, Bercengkrama di tempat-tempat tertentu, maksudnya, memberikan waktu untuk melepaskan segala kepenatan pekerjaan di tempat yang dianggapnya paling nyaman. Misalnya Cafe dianggap sebagai suatu tempat menunjukkan gaya hidup modern yang begitu banyak digandrungi

Keempat, Lunch, Golf, Dinner. Artinya kegiatan ini dilihat sebagai tata Krama yang lazim dipakai untuk mengadakan pendekatan mempengaruhi kebijakan orang lain dalam mengambil suatu keputusan. Misalnya ketika bermain golf, seorang pengusaha melakukan lobby-lobby kepada menteri atau direksi suatu perusahaan.

Kelima, Pernikahan Agung, maksudnya moment pernikahan kehidupan yang perlu dirayakan dengan mewah di ballroom hotel berbintang 5. Misalnya pernikahan keluarga Presiden yang dihadiri oleh para pembesar dan pejabat pemerintahan RI.

Keenam, Cara hidup Instan. Maksudnya gaya hidup yang ingin serba praktis dan efektif. Contohnya makan di tempat makan fast food McDonald's atau KFC..

Ketujuh, Gaya hidup dengan teknologi komunikasi, maksudnya merujuk pada kemampuan memakai alat-alat teknologi informasi yang membuat orang bahkan dunia berada digenggaman, misalnya, perkembangan alat CIP dan Internet.

Kedelapan, Wisuda, pengukuhan kelulusan yang diakui pada tingkat kesarjanaan, master dan doktoral yang selalu dilakukan untuk merayakan kelulusan. Misalnya melakukan perayaan semalam suntuk.

Kota Sanana yang merupakan ibukota Kabupaten Kepulauan Sula, secara umum masyarakatnya terdiri dari berbagai macam suku, agama, budaya dan kepentingan. Secara khusus yang sering ditemui selain suku Sula-maluku sebagai penduduk asli terdapat pula penduduk pendatang seperti, Jawa, Buton, Wanci, Bugis Makassar dan Minahasa (Manado) dan lainnya. Dan berkaitan kepercayaan sebagian besar penduduk kota Sanana beragama Islam dan juga terdapat agama Konghucu, Kristen dan Katolik.nah dengan demikian, kenyataan ini dapat mempengaruhi terciptanya gaya hidup yang dikemukakan oleh A.B Susanto diatas.

Dengan kata lain penduduk kota Sanana pada umumnya melihat sebuah tampilan gaya hidup modern bertolak dari apa yang disebutkan di atas. Tetapi dari keanekaragaman suku dan agama itu juga mempengaruhi budaya dan gaya hidup masyarakat yang cenderung heterogen karena berbeda suku, agama maupun budaya. namun sekarang akibat perkembangan teknologi informasi yang terbuka membuat gaya hidup terlebih kepada pemuda terbilang homogen karena hanya berkiblat pada apa yang menjadi trend dan fashion yang dilihat Indonesia maupun dunia modern.

Perkembangan ini dapat dilihat dari beberapa aspek seperti aspek bahasa, berpakaian dan pola pikir :

Aspek Bahasa yang di pakai di kota Sanana ialah bahasa daerah Sula. Dalam praktek bersosialisasinya penduduk juga memakai bahasa Melayu Pasar yang identik dengan bahasa yang digunakan secara keseluruhan penduduk Kepulauan Maluku. Seiring berkembangnya jaman dan faktor budaya baru sebagian pemuda kota Sanana juga memakai bahasa Melayu Pasar dari Manado, Ternate dan Makassar.

Aspek berpakaian, berpakaian pada dasarnya pemuda kota Sanana dipengaruhi oleh pada faktor agama atau apa yang menjadi trend fashion sekarang, maksudnya di kota Sanana terdapat sebagian yang berpanduan pakaian islami dan umum seperti yang terlihat di daerah lainnya.

Aspek pola pikir, aspek ini dapat dilihat dalam kesadaran dan perilaku pemuda kota Sanana, Dimana kesadaran untuk membuka diri dalam segala sesuatu yang datang mempengaruhi kehidupannya, baik menyadari pentingnya pendidikan dan melestarikan kebudayaan dan perilaku yang mulai didasari oleh kesopanan serta sadar akan batas layak seorang pemuda bersikap. Walaupun tidak semua demikian namun perkembangan itu selalu ada.

Dari semua perkembangan yang diuji dari ketiga aspek tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penduduk Sula secara perilaku terkhusus di kota Sanana sangatlah menghargai sikap hidup saling toleransi, rukun dan damai serta masih adanya keterbukaan menerima budaya baru selagi masih pada karidor kepercayaan suku maupun agama yang dianut. 

Terlebih perkembangan gaya hidup modern tidaklah menghilangkan budaya gotong royong yang disebutnya Walimah (ambil tangan maksudnya saling bantu), Lom Poa do Hoi (kumpul tulang, biasanya digunakan untuk menunjukkan ikatan persaudaraan dengan memberi).


Sebelum menutup, saya ingin berkata bahwa ini bukanlah sebuah analisis yang mendetail secara metodologi karena hanya dilihat dari apa yang ditampilkan pada realitas sosial di kota Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula. Terimakasih

Sumber https://www.atomenulis.com/