Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Argumentasi Terkait Persoalan Etika dan Profesionalitas

Sebagaimana lazim diketahui bahwa latihan dasar kepemimpinan yang di laksanakan pada setiap organisasi bertujuan untuk membentuk karakter manusia agar mampu berjalan di atas pondasi nilai kemanusiaannya sebagai pemimpin. Pada kesempatan kali ini saya katakan hal itu hanya dapat ditempuh secara intelektual maupun spritual, berkaitan dengan materi yang diberikan yakni etika dan profesionalitas.

Sebab konsep kepemimpinan sudah tentu memberikan gambaran pertanyaan maupun asumsi perihal seperti apa bentuk dari kepemimpinan itu dan bagaimana metode untuk mencapainya ? kemudian seperti apa pondasi dari sebuah kepemimpinan tersebut ? manakah yang mendasar apakah etika atau kebenaran? dan apa tujuan dari etika itu?

Secara definisi etika berkaitan dengan kaidah (prinsip -prinsip) yang tentunya berbeda dengan nilai etik sedangkan definisi profesionalitas ialah tindakan yang dilakukan secara benar. Olehnya berkaitan dengan beberapa pertanyaan di atas maka tentu untuk membentuk manusia unggul hanya dapat ditempuh secara intelektual dan religius, kemudian menjadi sebuah karakter kepemimpinan. Akan tetapi, dalam pembentukan maka mestinya terlebih dahulu kita mengerti apa itu manusia ? apakah sama keinginan manusia dengan binatang atau tidak ?

Artinya dengan pengetahuan terhadap manusia maka ia akan memiliki kesadaran yang membedakannya dengan makhluk lain baik dari segi substansi, maupun secara sifat atas potensi yang dimilikinya. Salah satunya ialah mengetahui keinginannya yang dimana berbeda dengan binatang dan tidak terbatas.

Oleh karena itu, pengetahuannya pun tidak terbatas karena melampaui ruang waktu, hal itu kemudian menjadikannya pemimpin yang adil dan mengerti substansi dari karir hidup yang bukan hanya dalam batasan material melainkan profesionalisme dalam kerja kemanusiaan sebagai bentuk investasi umur. Dengan kata lain mengenal keinginan manusia itu sendiri merupakan hal paling subtansi, agar setiap pilihan manusia tidak bertentangan dengan keinginan tersebut, sebab apa bila manusia bertentangan dengan hal itu maka konsekuensinya ia telah gagal memimpin dirinya, demikian orang lain.

Secara filosofis kerap kali konsekuensi pilihan dianggap asing dan bertentangan pada diri karena kita tidak sadari bahwa yang di anggap bukan keinginan kita adalah sesuatu yang di inginkan secara rasional sebenarnya, demikian pun sebaliknya yang dianggap tidak bertentangan justru merusak mental kejiwaan kita sendiri. Semisalnya memilih main game ketimbang baca buku, diajak berpikir lebih kritis katanya ketinggian, memilih tidur ketimbang diskusi, ingin bahagia tapi tidak mau menderita, berjuang namun tidak berkorban. hal itu dapat terjadi karena kita gagal membedakan mana keinginan naluri dan keinginan berbasis fitrah kemanusiaan. Sehingga cenderung eksploitasi diri sendiri dan juga orang lain ketika menjadi pemimpin dan zalim.

Kesimpulannya ialah pondasi sebuah kepemimpinan itu bergantung pada falsafah manusia secara tahapan baik teoritis yakni kebenaran yang dicapai secara epistemik, dalam arti kebenaran dan praktis berkaitan dengan nilai etik maupun religius dan hukum, walaupun pada akhirnya pondasi kemanusiaan ialah ideologi, demikian sebaliknya dalam membentuk manusia - manusia unggul, baik secara intelektual dalam memimpin dirinya maupun orang lain dengan religius dan sosial. 


Dimana ini merupakan buah dari keinginan dan perasaan manusia yang terikat pada sebuah keyakinan kemudian melahirkan kebudayaan atas dasar intelektual dalam tahapannya menjadi manusia paripurna.

Sumber https://www.atomenulis.com/