Melihat Problematika dalam Tubuh HMI (Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam)

Suatu hal yang ironi bila idealisme dan pergerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak berdasar kepada realitas di sekelilingnya sehingga HMI teralienasi oleh masyarakatnya sendiri. Pada akhirnya gerakan yang dilakukan HMI pun tidaklah sistematis dan metodologis. 

Agar tidak terjadi demikian maka sebuah transformasi sangat diperlukan HMI, transformasi di sini bukanlah untuk meninggal hal-hal yang baik sebelumnya, akan tetapi melakukan upaya-upaya pengembangan baru yang lebih adaptif dan kontekstual dengan dinamika zaman.

Sejarah telah berulang kali menceritakan kepada kita tentang peristiwa-peristiwa kepahlawanan para Mahasiswa dan Pemuda. Dimana setiap kebangkitan pemikiran dan gerakan serta kejayaan sebuah peradaban senantiasa ada dibalik para mahasiswa dan pemuda yang dengan semangat juang mengibarkan panji-panji kebenaran sebagai pertanda sebuah kemenangannya.

Menurut Hassan Albana. Semua catatan sejarah heroik golongan pemuda itu hanya dapa dicapai bilamana memenuhi empat rukun seperti berikut, "Sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semangat dalam merealisasikannya dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. 

Atau secara sederhana yakni Iman, Ikhlas, Semangat dan Amal merupakan karakter yang wajib melekat pada pemuda. Sebab sesungguhnya dadar keimanan adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yanh menggelora dan dasar amal ialah kemauan yang kuat. Semua itu, tidak terdapat kecuali dalam diri para pemuda".

Maka dari itu HMI yang di dalammya terdapat anggota, kader yang tergolong pemuda telah menumbuhkan nilai semangat juang dengan sebutan Insan Ulil Albab berasaskan nilai-nilai keislamannya semenjak berakhirnya perkembangan kegemilangan pemikiran yang ditorehkan pada massa Ibnu Rusyd sebagai seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, setelah sepeninggalnya Al-Kindi dan Al Farabi yang kemudian di teruskan oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Ali Sariati dan Murtadha Muthari dan masih banyak lagi. 

Adapun kader dalam HMI yang juga diakui sebagai tokoh pemikir Islam di Indonesia seperti, Lafran Pane, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Jalaluddin Rakhmat dan lainnya.

Namun terlepas dari semua kegemilangan para pembaharu pemikiran Islam di atas, titik fokus utama kali ini adalah HMI pada era sekarang yang terlihat melempem dalam bentuk pemikiran dan gerakan terhadap kondisi masyarakat, Negara maupun Islam itu sendiri. Sehingga HMI sekarang terlihat statis dalam segi gerakan maupun pemikiran. 

Maka dari semua itu perlu dilakukan sebuah terobosan dalam penajaman kualitas setiap kader yang kritis dengan nilai-nilai insan Ulil albab dan selebihnya mensifati Insan Kamil yang ada dalam kitab-kitab HMI itu sendiri.

Nampaknya di era sekarang HMI maupun organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan semestinya wajib untuk dapat memahami konsep dan prinsip kerja dunia yang berbasis teknologi yang diselaraskan dengan polarisasi Politik Internasional yang menajamkan kekuasaannya dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Sebab hal inilah yang bakal menjadi dasar dari proses pembacaan lapangan untuk seorang kader ketika telah turun ke dalam dunia nyata atau telah keluar dari dunia bukunya.

Suatu hal yang ironi bila idealisme dan pergerakan Himpunan Mahasiswa Islam  Melihat Problematika dalam Tubuh HMI (Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam)

Tulisan ini sebagai reaksi terhadap perkembangan HMI yang dianggap tidak lagi kontekstual dalam perkembangan zaman atau dengan kata lain para kader yang tidak mampu lagi mengaktualisasi makna ajaran dalam HMI itu sendiri. Terima kasih.

Sumber https://www.atomenulis.com/
Melihat Problematika dalam Tubuh HMI (Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam) Melihat Problematika dalam Tubuh HMI (Himpunan Pelajar Mahasiswa Islam) Reviewed by Admin on April 03, 2022 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.