Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenal Roland Barthes dan Pemikiran Semiotika Fashionnya

Tokoh yang bernama Roland Gerard Barthes ini, merupakan seorang Sastra teori, Filsuf, Kritikus dan ahli Semiotika. Lahir di Prancis pada tanggal 12 November 1915 dan meninggal dunia pada 26 Maret 1980. Barthes dikenal memiliki pandangan dalam bidang Strukturalisme dengan fokusnya untuk mengembangkan dan memperluas kajian bidang semiotika melalui analisis berbagai sistem tanda, terutama yang berasal dari budaya populer barat. Terlebih dari pengembangan studi tentang tanda-tanda ini, Barthes menggunakan bahasa introgasi realitas untuk menunjukkan penipuan dari suatu hal.

Barthes juga menerapkan analisis Strukturalis pada kritik sastra dengan menganggap berbagai macam ekspresi atau analisis bahasa sebagai bahasa yang berbeda-beda. Maka tugas kritik sastra adalah terjemahan, yaitu mengekspresikan sistem formal yang telah dibentangkan penulisnya dengan suatu bahasa. Sekalipun hal ini terikat dengan kondisi zamannya.

Seperti dalam bukunya yang berjudul The Fashion System, terbit tahun 1967 di Prancis. Dimana Barthes menunjukkan bagaimana pemalsuan tanda dapat dengan mudah diterjemahkan ke dalam kata-kata dan dalam karyanya ini, Barthes juga menjelaskan bagaimana dalam dunia mode kata apapun bisa sarat dengan penekanan borjuis yang idealis.

The Fashion System atau bisa juga disebut semiotika fashion adalah studi terkait mode dan bagaimana manusia menandakan posisi sosial dan budaya tertentu melalui pakaian. Seperti yang dikatakan oleh Ferdinand de Saussure dengan memberikan definisi semiotika sebagai, ilmu tentang kehidupan tanda-tanda dalam masyarakat. Sama seperti seseorang dapat menafsirkan tanda dan membangun makna dari teks, seseorang juga dapat membangun makna dari gambar visual.

Fashion sendiri adalah bahasa isyarat yang secara nonverbal menyampaikan makna tentang individu dan kelompok. Ini memegang peranan simbolis dan komunikatif berkapasitas untuk mengekspresikan gaya unik seseorang mulai dari identitas, profesi, status sosial dan jenis kelamin atau afiliasi kelompok sosial.

Sebagai seorang ahli semiotika yang mempelajari sistem mode karena bagaimana ideologi ditransmisikan melalui pakaian, Roland Barthes mengatakan bahwa sistem semiotika dibentuk oleh kepentingan dan ideologi sosial. dan dalam masyarakat kita, ideologi dalam fashion sering diterapkan oleh tokoh-tokoh berpengaruh atau tokoh publik seperti selebriti, pesepak bola dunia dan kelas dominan lainnya. Indonesia sendiri seperti Nagita Slavina sebagai ikon wanita, dimana gayanya menjadi simbol kekayaan, kekuasaan dan keanggunan serta prestise.

Sistem mode yang tidak statis, dan seiring perubahan masyarakat dan minat yang dikembangkan melalui minat sosial, begitu pula gaya dan tren dalam berpakaian. Dimana sebagai contoh kegunaan celana yang dikenakan oleh pria sebagai identitas maskulinitas, tetapi celana telah menjadi pakaian yang dapat diterima baik untuk pria maupun wanita. Sebab individu dalam masyarakat selalu beradaptasi begitu pula kode pakaian dan pilihan mode seseorang. Dengan kata lain, fashion adalah suatu sistem tanda yang arti dan maknanya selalu bergeser dan berubah tergantung pada waktu, tempat dan budaya.


Maka dengan cara membaca tanda-tanda lewat fashion di atas, Barthes berusaha menemukan relevansi keberadaan perbuatan dan pilihan pola pikir yang tersembunyi baik secara eksplisit maupun implisit di tengah kehidupan masyarakat yang jauh lebih radikal yang tidak terlalu terlihat dalam tampilan tanda atau kode.

Sumber https://www.atomenulis.com/