Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengetahui Perbedaan Orientalisme dan Oksidentalisme

Ketika kita menyebutkan dunia barat dan timur (Islam), maka kita juga perlu menyadari bahwa konteks ini meliputi pengertian kontekstual bukanlah hanya tekstual. Dimana konteks-nya merujuk pada peristiwa kesejarahan yang cukup memiliki kompleksitas yang tinggi, diantaranya konteks hegemoni barat terhadap dunia Timur dan sebagainya dunia timur dalam mengkonter apa yang dilakukan dunia barat. Adapun istilah yang digunakan untuk menunjukkan kenyataan ini ialah Orientalisme dan Oksidentalisme.


1. Oksidentalisme


Asal usul oksidentalisme sekiranya dimulai saat lahirnya masa keemasan peradaban Islam selama 14 abad lamanya, pengetahuan ini didapatkan melalui hubungan antara Islam dan Yunani-Romawi di masa ketika dunia barat mengalami kegelapan ilmu pengetahuan di abad pertengahan. kenyataan ini dapat diketahui melalui peninggalan maupun catatan sejarah terkait kontribusi pemikir Islam dalam dunia ilmu pengetahuan yang berkembang melalui filsafat.

Oksidentalisme sendiri memiliki akar kata Occident yang berarti, Negeri Barat. Oksidentalisme seringkali disebut sebagai proses studi tentang barat dari berbagai aspek seperti, aspek ilmu pengetahuan, pemikiran tokoh, budaya dan aspek sosial lainnya.

Sekarang, oksidentalisme juga dianggap sebagai tandingan dari orientalisme yang mengarah pada kajian terkait ajaran-ajaran ketimuran. Namun walaupun sebagai langkah melawan kepada gerakan orientalisme, oksidentalisme tidak memiliki tujuan mendominasi dan hegemoni sebagaimana orientalisme. Maka daripada itu, oksidentalisme dipahami sebagai langkah menjelaskan, meluruskan atau menangkis tuduhan yang dialamatkan kepada dunia ketimuran.

Hal ini sesuai dengan gambaran oksidentalisme yang dikenalkan oleh seorang Hasan Hanafi dalam bukunya yang berjudul, Fi ilm al-istighrab, dimana oksidentalisme bersifat bersih, objektif dan netral dibandingkan dengan orientasi orientalisme yang mempropagandakan barat sebagai pusat kebudayaan kosmopolit. Bahkan menurut Hasan Hanafi, orientalisme dijadikan kedok belaka untuk ekspansi kolonialisme dunia barat (Eropa) terhadap dunia Timur (Islam).

2. Orientalisme


Istilah Orientalisme lahir dengan ditandai adanya gerakan penjelajahan dunia barat tepatnya di wilayah yang berada di Timur tengah, dengan tujuan meraup ekonomi. Namun kemudian berkembang menjadi upaya memahami lebih jauh seperti mendalami kajian ekonomi, kebudayaan, politik dan sosial dunia timur.

Dunia barat kemudian menyadari untuk mendapatkan tujuan ekonominya maka semulanya harus melalui pendekatan-pendekatan dengan berlandaskan akar pemahaman ketimuran. Salah satunya ialah melakukan pengkajian terhadap kitab suci Al-Qur'an sebagai sumber gerakan maupun pemikiran di dunia ketimuran kala itu.

Lebih dari itu gerakan orientalisme berkembang dengan para kaum orientalisnya dengan mempelajari tentang dunia Arab, China, India dan Persia diberbagai lembaga pendidikan Islam sebagai upaya untuk memahami sehingga dapat mempelesetkan dengan tujuan diantaranya ialah mendominasi dunia timur bukan hanya pada kolonialisme dan Imprealisme dari segi ekonomi melainkan lebih kepada pemikiran kebudayaan dan sosial.

Hal itu kemudian berkembang lagi menjadi upaya mendidik dunia Timur yang berujung menjadi hegemoni barat sebagai upaya kolonialisme dan Imprealisme dunia barat terhadap dunia Timur, karena orientalisme mempunyai tujuan tertentu atau kecenderungan tertentu seperti, onteks sejarah, konteks intelektual, hingga tujuan ekonomi tertentu. demikian perkataan Edward Sa'id.

Nah, dari semua uraian tujuan dasar hingga sekarang di atas, maka gerakan orientalisme melalui tokoh-tokoh orientalisnya dikenal sebagai orang-orang non-muslim (barat) yang fokus mempelajari tentang dunia timur, terkhusus agama Islam dengan tujuan-tujuan tertentu.

Di Indonesia sendiri, tercatat ada seorang orientalis Belanda yang bernama Christian Snouck Hurgronje. Dimana ia berpura-pura menjadi muslim yang taat dengan kemampuan berbahasa Arab yang fasih dan dukungan gubernur yang menetapkan dirinya sebagai penasihat Urusan Adat. 

Maka Snouck Hurgronje kemudian dapat merubah semangat pemikiran politik dalam Islam pada masyarakat Indonesia tepatnya di Aceh dengan pernyataannya kepada masyarakat bahwa, "Musuh Kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, tapi Islam sebagai doktrin politik". 

Terlebih dalam soal ini Snouck Hurgronje membagi Islam menjadi 3 aspek, 1. Aspek Ibadah 2. Sosial Masyarakat dan 3. Politik, namun menurutnya netralitas hanya berlaku pada aspek ibadah dan Sosial Masyarakat. Sebab Aspek politik di katakan berbahaya, apalagi jika berkaitan dengan Paham - Phama Islamisme yang menurutnya harus dilibas (dihilangkan) sejak dini. 


Akibatnya, semenjak saat itu masyarakat Indonesia melihat Islam hanya mengurusi persoalan ibadah dan hubungan sesama masyarakat dan tidaklah mengurusi persoalan politik. Demikianlah. Terima kasih

Sumber https://www.atomenulis.com/