Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembuktian Kalimat- Kalimat Inspiratif Buya Hamka

Siapa tidak mengenal sosok Buya Hamka yang merupakan seorang Ulama dan Aktivis, Sastrawan dan Cendekiawan Karismatik itu. Setiap karya-karyanya telah menghiasi jagat pembelajaran di Indonesia. Salah satu Novelnya yang berjudul, Tenggelamnya Kapal Van der Wick telah di buatkan film dan ditonton jutaan orang dan telah berapa banyak bukunya yang telah dibaca orang Indonesia dan bahkan Malaysia. Sebagai seorang Aktivis dan Sastrawan Indonesia, banyak kata, kalimat darinya yang begitu inspiratif dan memotivasi banyak orang, terlebih saya. Ada beberapa kalimat Buya Hamka yang betul-betul saya telan untuk direnungi dalam mengarungi kehidupan. Di antaranya ialah sebagai berikut:

Pertama, kalimat yang berbunyi, "Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya".

Kalimat seorang Buya Hamka yang seakan membelah masa depan, karena kata ini telah terbukti di Indonesia maupun dunia saat sekarang. Dimana perempuan sekarang lebih mengedepankan kecantikan yang terletak pada wajah, sebab hampir banyak dari setiap wanita lebih mementingkan merias wajah ketimbang merias adab. Bahkan ada yang mementingkan wajahnya dengan melakukan berbagai cara di antaranya Operasi Plastik (OPLAS), Sulam Alis, Sulam Bibir hingga Suntik Implan payudara dan bagian tubuh lainnya.

Tentu ada yang akan menanggapi bahwa Apakah itu salah? Melanggar hukum? Pastinya dalam ranah individu tentu dilindungi undang-undang atas hak-hak masing-masing orang, namun dapat dikatakan melanggar dalam pandangan etis yang lahir dari literatur agama, khususnya agama Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia.

Kedua, kalimat lainnya yang menggetarkan jiwa setiap orang yang membacanya terutama saya adalah. "Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri".

Apakah terlihat sekarang? Ya jelas! Berapa banyak orang yang katanya beriman, mengkafirkan dan membid'ahkan seseorang yang berbeda pendapat dan rujukan dengannya. Dan yang lebih mencengangkannya lagi yaitu orang yang katanya berilmu, karena berbagai gelar pendidikan tinggi formal telah disandangnya, setiap di depan maupun belakang namanya pasti memiliki gelar atau titel, namun banyak yang terjerat kasus-kasus memakan bukan hak mereka seperti Korupsi, Gratifikasi dan Suap menyuap.

Ketiga, kalimat inspiratif  berbunyi, "Oleh sebab itu maka bertambah tinggi perjalanan akal, bertambah banyak alat pengetahuan yang dipakai, pada akhirnya bertambah tinggi pulalah martabat Iman dan Islam seseorang". Bersumber dari dalam bukunya yang berjudul Falsafah Ketuhanan.

Semestinya yang harus terjadi ketika seseorang menuai ketinggian ilmu maka meninggi pulalah iman seseorang, sayangnya kebanyakan dalam kenyataannya berkata lain. Sebagian orang berilmu telah diselimuti hasrat berkuasa, sehingga meskipun harus menelan yang haram dan melahirkan kerugian, kesengsaraan serta membuat kehancuran untuk orang lain mereka tidaklah peduli. Sebab sesuai fakta hari ini bahwa keberadaban ilmu telah berubah menjadi kesombongan dan keangkuhan serta keserakahan.

Keempat, kalimat inspiratif dapat ditemukan dalam bukunya yang berjudul Falsafah Hidup, yang berbunyi "Orang berakal hidup untuk masyarakatnya, bukan buat dirinya".

Kalimat yang mengetuk relung batin saya dengan begitu kencang karena rasa malu yang menyayat hati. Sebab seketika muncul pertanyaan dalam ketegangan diri saya atas apa yang telah saya lakukan untuk masyarakat?, Apa yang telah kita lakukan untuk masyarakat?. Sebagai orang yang meyakini bahwa dirinya berakal, berilmu.

Tentu telah banyak orang yang mendistribusikan ilmu yang didapatkannya untuk kepentingan masyarakat, banyak juga yang telah melayani masyarakat dengan ilmunya. Namun sebagian besarnya masih berasaskan individualisme, sebab secara realitas yang miskin tetap miskin dan yang kaya bertambah kaya, serta yang berkuasa masih menindas dan yang dikuasai tetap di tindas. 

Akibatnya sebanyak apa pun tidak akan cukup bila saya atau kita berkata bahwa kita telah memberi dengan memikirkan persoalan masyarakat dan telah berhasil menyulap kayu menjadi kursi dan meja atau telah berhasil menciptakan pesawat terbang dan lainnya. Itu jelas belum cukup.


Sebagai akhir dari uraian singkat ini, saya berharap kita bisa menyerap dengan dalam kalimat-kalimat di atas. Sehingga dengan begitu, kita dapat memetik makna baik di dalamnya dan dapat merubah sesuatu yang tidak baik menjadi baik. seminimalnya dilakukan pada diri masing-masing dan semoga mengakar kepada keseluruhannya.

Sumber https://www.atomenulis.com/