Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kritik Immanuel Kant Terhadap Agama dan Prakteknya

Immanuel Kant adalah seorang Filsuf, Pengajar, Peneliti dan Penulis besar filsafat di era pencerahan pada akhir abad 18. Filsuf yang lahir pada 22 April 1722 ini dianggap paling berpengaruh hingga sekarang. Kant sendiri diketahui menghembus nafas terakhirnya pada 12 Februari 1804. Sebagai tokoh yang berperan dalam era perkembangan filsafat, Kant juga seperti selayaknya filsuf di masanya yang menaruh perhatian pada situasi keagamaan di masa sebelumnya yang disebut era filsafat paternalistik atau era skolastik. Nah berikut adalah pendapat Kant terkait agama dan prakteknya.

Agama menurut Kant, adalah pengakuan bahwa semua kewajiban moral adalah perintah Allah. Karena dalam perspektif akal budi praktis murni, kewajiban moral memang tidak didasarkan atas apa pun, kecuali dari hukum-hukum akal Budi itu sendiri, yakni bahwa kita wajib merealisasikan Kebaikan Tertinggi.

Berangkat dari kalimat di atas, maka Kant mengemukakan bahwa, Sejauh moralitas didasarkan atas konsepsi mengenai manusia sebagai subjek yang bebas, yang karena ia bebas, mengikatkan dirinya sendiri kepada hukum yang mutlak melalui akal budinya, dimana manusia tidak membutuhkan ide mengenai pengharapan lainnya yang lebih tinggi darinya, agar dapat memahami kewajibannya, juga tidak membutuhkan insentif selain dari hukum itu sendiri, agar manusia melakukan kewajibannya moralitas. Dengan demikian, tidak didasarkan atas agama, melainkan bahwa moralitas itulah yang menjadi dasar bagi iman moral, yakni bila kita mengakui bahwa kewajiban - kewajiban moral itu adalah perintah Allah.

Bagi Kant, Moralitas, secara pasti membawa kita kepada agama, dan melalui agama itu, moralitas mengembangkan dirinya ke idea tentang pemberi hukum moral yang berkuasa diluar dari umat manusia, dan berdasarkan kehendaknya terdapat tujuan final “bagian dunia ciptaan”, yang sekaligus merupakan tujuan terakhir manusia. Maka berdasarkan argumentasi moral akal Budi praktis murni, manusia percaya pada eksistensi Tuhan yang sangat masuk akal.

Namun selebihnya, Kant bukan mau menegaskan bahwa agama itu benar, melainkan bahwa agama itu berguna karena ia memperkenalkan Tuhan yang merupakan penjamin moralitas. Kant mengatakan berguna dan bukan benar maka kekristenan bisa dipahami melalui teologi minimum. Artinya bukan bahwa Tuhan itu ada, melainkan bahwa manusia memiliki syarat atau minimal untuk mengakui bahwa Tuhan itu ada kemudian beriman yang sesuai dengan kebutuhan akal budi praktis murni.

Kant menegaskan kritikannya Terhadap Praktik - Praktik Beragama seperti sebagaimana seorang filsuf abad pencerahan. Dimana filsafat agama Kant dikenal sebagai teologi spekulatif atau teologi rasional. , teologi atau diskursus tentang Tuhan yang tidak didasarkan atas Kitab Suci, tetapi atas pikiran rasional semata-mata. Dengan kata lain, Imanuel Kant membahas Tuhan semata-mata dari sudut pandang rasional, bukan dari sudut pandang iman kepercayaan atau dari sudut pandang Kitab Suci. Walaupun begitu Kant juga memberi tempat bagi beberapa unsur-unsur penting agama dalam filsafat agamanya untuk dipahami.

Dan dalam membicarakan agama dan Prakteknya, Kant mengatakan bahwa perjuangan kita untuk mengejar keutamaan itu selalu bertolak dari ketidaksempurnaan moral karena manusia memiliki kecenderungan untuk bertindak bertentangan dengan hukum moral. Sebab manual berada dalam dunia di mana kejahatan begitu banyak. Maka menurut Kant, manusia pada hakikatnya adalah buruk secara moral. Oleh karena itu, kalau manusia mampu mencapai tujuan moral, manusia menjadi orang yang berkeutamaan, itu bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena kasih karunia Tuhan.

Sebagai orang yang buruk secara moral, tapi memiliki iman moral, manusia lebih berharap bahwa kebaikan tertinggi itu bisa dicapai melalui pertolongan Tuhan, yang dengan kehendak sucinya “kehendak dan hukum moral menyatu padanya”, juga mengharapkan agar ciptaannya berbahagia. "Harapan akan kebahagiaan bermula pada agama". Menurut Kant, tidak banyak memberi perhatian pada agama sebagai fenomena sosio-historis. Pendekatannya murni moral rasional. Kant mengritik ritual-ritual keagamaan, semisalnya ibadah, puji-pujian atau doa yang sarat dengan permintaan kepada Tuhan. Kritik Kant yakni dengan menyebutkan bahwa agama yang mengajarkan ritus puji-pujian begitu sebagai agama penjilat ( the religio of ingration ) yang merendahkan martabat manusia itu sendiri, karena menyebabkan manusia yang seharusnya berjuang sendiri untuk baik secara moral, manusia justru lebih mengharapkan pertolongan dari Tuhan.

Selebihnya menurut Kant, membujuk Tuhan melalui doa - doa agar ia membantu maksud-maksud kita, memaafkan kesalahan kita serta melindungi kita dari ancaman sebagai tindakan yang tidak relevan. Sebab Tuhan tidak dapat dibelokkan dari rencana kebijaksanaannya untuk keuntungan kita. Bagi Kant, semua ibadah, doa dan puji-pujian kepada Tuhan tidak dari keinginan yang dinyatakan dan ditunjukkan kepada sebuah pengada yang sebenarnya tidak membutuhkan informasi formasi demikian, dan oleh itu tidak ada apa pun yang dapat diselesaikan melalui semua upaya itu. Dimana melakukan persuasi seperti itu terhadap Tuhan tidak akan menghasilkan efek apa pun, baik menurut hukum alam maupun hukum moral.

Dan tindakan - tindakan itu juga secara tidak langsung telah mengecilkan kebesaran ketuhanan dari Tuhan. Karena seakan-akan akan Tuhan itu manusia yang senang dipuja, seakan-akan Tuhan tidak Maha mengetahui atau seakan- akan Tuhan dapat ditarik ke sana kemari melalui bujukan – bujukan itu. Menurut Kant, salam agama yang rasional, tidak ada kewajiban khusus apa pun kepada Tuhan, Karen Tuhan tidak dapat menerima apa pun dari kita, kita tidak dapat melakukan tindakan apa pun kepada-Nya, juga tidak dapat bertindak kepada-Nya, dan dia juga tidak dapat melakukan tindakan apa pun untuk menghukum kita, Selain perilaku hidup yang baik, apa pun yang dibayangkan manusia yang dapat dilakukannya untuk menyenangkan Tuhan itu bagi Kant merupakan sebuah ilusi religius dalam pelayanan semua terhadap Tuhan. Sebab itu, setiap seremoni religius yang tidak dilakukan dalam kerangka murni moral, melainkan sebagai cara agar Tuhan merasa senang kepada kita, dan dengan demikian ia memuaskan semua keinginan kita, itu adalah Keimanan berhala.

Dalam argumentasinya terkait agama, Kant juga menolak hirarki dalam gereja karena menurutnya sistem demikian justru tidak mendidik, karena membuat orang tetap seperti anak-anak yang harus dibimbing, sehingga tidak beranilah menggunakan pikiranmu sendiri. Namun bagi Kant, sejauh ritus-ritus keagamaan tidak dimaksudkan sebagai instrumentalisasi Allah demi tujuan-tujuan subjektif manusia itu sendiri, Kant memandang ritus itu secara positif. Kant juga mengatakan bahwa orang perlu menjadi anggota gereja karena dengan demikian ia memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam memajukan moralitas umat manusia. Dengan demikian, Kant memang berharap bahwa suatu saat semua bentuk gereja akan melebur dan semua umat menjadi satu sebagai umat Allah.


Itulah Kant, seorang filsuf yang mengedepankan kepentingan moralitas dalam aspek-aspek apa pun, terlebih kepada agama dan prakteknya karena menurut Kant. Rasional setidaknya menjadi pendahuluan untuk membantu manusia menemukan keautentikan sebuah agama, terlebih kepada eksistensi Tuhan.

Sumber https://www.atomenulis.com/