Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Maha Pengasih dan Penyayang Allah SWT Kepada Umat Manusia

Dalam pandangan sebagian orientalis dan sebagian ateis, keberadaan Tuhan sebagai membungkam kebebasan manusia dalam aturan serta larangan yang diungkapkan dalam kitab suci. Terlebih kepada agama Islam yang dengan aturannya dikatakan begitu membatasi kebebasan manusia, seperti membatasi berekspresi, berpendapat dan bahkan berpakaiannya manusia. Nah mari kita teropong bagaimana Islam menjelaskan kebebasan itu.

Manusia diciptakan dalam keadaan suci bersih dengan segala instrumen pembantu yang sempurna. Terlahir sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah yang pengembang amanah, manusia dikarunia kehendak bebas atau kemerdekaan oleh Allah SWT. Namun kemerdekaan tersebut mengandung konsekuensi yang mesti dipertanggungjawabkan. Artinya, segala bentuk jalan hidup dari pilihan manusia pada hakikatnya hanya terdiri dari jalan hak dan jalan batil. dan setiap jalan yang pilih akan mendapatkan balasan di hari akhir.

Akan tetapi Allah SWT sebagai yang maha mengetahui dan maha murah hati, telah mempersiapkan manusia dengan instrumen memperoleh ilmu pengetahuan dan juga petunjuk jalan keselamatan melalui para nabi dan rasul yang diutus serta kitab suci yang diturunkan. sehingga manusia tidak terjerumus pada jalan kebatilan. Dengan menganugerahkan kepada diri manusia agar dapat menjalankan kehidupan sebaik-baiknya yaitu dengan kepunyaan akal, hati dan intelek untuk berpikir konsekuensi dan merenungi perbuatannya. 

Dengan begitu, kemerdekaan yang sesungguhnya diberikan bukanlah kemerdekaan semu yang membuat manusia terjebak pada hal-hal buruk, akan tetapi kemerdekaan itu menjadi rahmat sebenar-benarnya bagi manusia bila disikapi serta diaktualisasikan berdasarkan petunjuk jalan yang benar dari Allah SWT.

Dengan demikian pula dapat dikatakan bahwa kemerdekaan semacam ini bermakna pilihan yang sadar dan bertanggungjawab atas jalan hidup yang dipilihnya.

Secara sosiologi, kemerdekaan yang disikapi seperti di atas akan tampak sebagai keberpihakan, keberpihakan terhadap segala sesuatu yang berasal dari kebenaran dengan dasar tujuannya kebermanfaatan, Keberpihakan yang tercermin dalam kerja-kerja kemanusiaan atau dalam Islam disebut amal saleh, dan sekaligus menjadi rahmat bagi alam semesta dan pada manusia pada khususnya. Tentu sikap yang demikian bukanlah tanpa sebuah risiko, akan tetapi memungkinkan atau memerlukan yang namanya pengorbanan dan penderitaan yang cukup berat.

Walaupun begitu, Allah SWT dengan sifat adilnya telah jauh-jauh hari mengisyaratkan bahwa tidak akan diterima begitu saja pernyataan beriman atau keberpihakan dari manusia, melainkan mereka semula akan diuji dengan beragam cobaan besar maupun kecil. Namun dibalik itu, Allah SWT tidak akan memberikan suatu cobaan kepada umatnya melebihi kapasitas yang dimiliki oleh mereka yang diuji, sehingga seharusnya segala risiko dapat ditanggung dengan tabah dan sabar oleh para pejuang Islam.

Secara logis, sikap yang demikian menuntut adanya kemampuan diri yang memadai dalam aspek kehidupan, kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan yang berasal dari pengembangan diri dengan seimbang yang diikutsertakan dengan konsistensi sikap di satu sisi dan pemahaman medan perjuangan yang baik disisi satunya lagi.


Ini semua berarti, memerlukan yang namun proses pembelajaran diri secara terus menerus yang tercermin dalam sikap kritis, obyektif dan progresif. Dimana pada akhirnya secara sosiologi dan politis individu maupun kelompok dapat melanjut pada tahapan berperan menentukan jalannya sejarah peradaban manusia.

Sumber https://www.atomenulis.com/