Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membangun Kembali Paradigma Kritis Mahasiswa di Era Modern

Anggapan umum pertama ketika mendengar tentang kata modernisme ialah yang dibawa adalah peradaban dalam kehidupan sehari-hari manusia. Tak jarang para tokoh pendukung menggambarkan modernisme dengan segala perangkatnya merupakan langkah menuju kemajuan dan pandangan ini terbukti telah meresap ke setiap sendi-sendi pemikiran manusia secara global. Meskipun, masalah pokok lainnya yang dihadirkan modernisme juga ada dan begitu kompleks, terlebih hal ini pernah terjadi di setiap orang, pernah juga dipikirkan setiap orang di dalam hidupnya.

Tentu, harus diakui bahwa dunia dalam perkembangannya telah mengalami peningkatan secara pesat, hal ini membuktikan bahwa pemahaman akan modernisasi telah berhasil, salah satunya di bidang teknologi yang merupakan salah satu tiang modernisasi sebagai tujuan kampanye secara mengglobal. Dengan kata lain dunia dibalik kemajuannya telah melayani makhluk hidup terutama manusia dengan sangat baik.

Perihal perkembangan dalam wajah teknologi ini, bisa dikatakan atau bisa diibaratkan sebagai sebuah pisau, yang satu sisi memiliki fungsi untuk memotong atau mengiris bawang atau tomat, di sisi lainnya dapat difungsikan untuk menikam atau membunuh makhluk hidup. Sebagai contoh, perkembangan modern memberikan kecepatan dan kepraktisan dalam segala aspek yang bisa berdampak positif maupun negatif.

Nah, berangkat dari ketersediaan teknologi bermata dua ini "negatif dan positif", maka ketakutan negatif saat ini adalah hilangnya keinginan atau hasrat pelajar maupun mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi demi kepentingan pembelajarannya, ketakutan lainnya ternina bobokan dengan segala hal modern yang Instan. Kenapa demikian, karena terlihat secara potensi realitas begitu kuat untuk terjadi, dan pada akhirnya eksistensi mahasiswa hanya kuliah mengejar kesempurnaan kehadiran (absensi) dan membuat tugas Copy Paste di internet demi mengamankan nilai (IPK), tanpa membaca kembali serta memikirkan substansi dibalik apa yang dipelajari.

Terlebih, mahasiswa pada saat ini terlihat cenderung terpola oleh pemikiran mayoritas, sehingga tidak lagi menciptakan budaya kritis dan tidak bisa memiliki pemikiran maupun pergerakan yang radikal dan progresif, dan tentunya hilangnya karakter mayoritas ini diakibatkan paradigma instan yang melayani selama ini, hingga akhirnya paradigma yang telah mempengaruhi konteks berperilaku ini, telah dibaluti sikap apatisme mengenai tanggung jawab seorang mahasiswa terkait masalah-masalah yang dihadapi negara ini.

Padahal, dalam persoalan menangkap pembelajaran formal maupun non formal mahasiswa harus bisa terbuka dalam memakai semua instrumen-instrumen kritis yang ada, entah itu bersifat pemahaman kiri ataupun kanan. Mahasiswa harus berbeda dari kelompok lain dari segi ketertarikan pembelajaran mahasiswa tidak semestinya monoton satu arah.

Sebab logika butuh metode perbandingan (komparasi) dua hal yang berbeda. Begitu juga logika formal mahasiswa yang membutuhkan perbandingan problem untuk mengaplikasikan kepentingan masyarakat. Metode ini jika di tinggalkan akan lahir kesimpulan yang rentan dipatahkan atau kesalahan berpikir (Fallacy) dalam aktivitas penalaran seseorang.

Dinamika ini yang juga disebut kemandulan mengolah objek pembelajaran jika mahasiswa bahkan pengajarnya gagal. Dan dititik paling rapuh, bangsa ini akan melahirkan generasi-generasi yang membenarkan sesuatu karena kesepakatan mayoritas, terbawa arus terpukul gelombang kebodohan dalam samudera dunia. 

Anggapan umum pertama ketika mendengar tentang kata modernisme ialah yang dibawa adalah pe Membangun Kembali Paradigma Kritis Mahasiswa di Era Modern

Maka sebagai kaum intelektual, mahasiswa harus bisa membongkar sesuatu yang di anggap salah sebelum menyimpulkan salah, sebagai kaum kritis, mahasiswa harus berani lantang meneriakkan kebenaran di tengah lautan ketidaksetujuan. Terima kasih, Salam Pergerakan.

Sumber https://www.atomenulis.com/