Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengkaji Tentang Bagaimana Manusia Memperoleh Pengetahuan

Pada dasarnya, Manusia adalah makhluk yang memiliki struktur ciptaan paling sempurna ketimbang makhluk-makhluk ciptaan lain, seperti Malaikat, Jin, Hewan dan Tumbuhan. Akan tetapi walaupun memiliki kesempurnaan struktur, namun pada awalnya manusia lahir dalam keadaan tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu apa pun.

Manusia kemudian mengalami proses evolusi secara secara fisik maupun organ-organ dalam tubuh, di antara proses evolusi yang membuat manusia mengalami proses mengetahui dari tidak mengetahui ialah dengan berkembangnya alat memperoleh pengetahuan seperti akal dan indra pendengaran dan indra penglihatan sebagai instrumen berpikir. Maksudnya, manusia mulai dapat memanfaatkan potensi pada dirinya untuk memperoleh pengetahuan lewat kenyataan diri manusia sendiri dan kejadian alam yang setelahnya menjadi pengetahuan alam dan pengetahuan tentang manusia.

Kemudian dalam dua pengetahuan ini berlakulah proses berpikir. Baik dari segi instrumen dalam diri manusia maupun sumber pijakan pengetahuan di luar dari dalam diri manusia. Berangkat dari pengetahuan alam, manusia akan dapat menjelaskan secara garis besar bagaimana hukum alam dan teori dapat dipahami melalui pengalaman, karena alam sendiri merupakan objek pengetahuan yang sifatnya relatif tetap (konsisten), akibatnya proses dan instrumen memperoleh pengetahuan ini cukup dengan melakukan pengamatan secara indrawi karena hasilnya akan sama sepanjang konsisten dengan fakta.

Sumber pengetahuan alam dengan memakai instrumen empirisme di atas ini. Kemudian menuju pada saringan rasionalitas melalui instrumen dalam diri manusia yakni akal dan hati untuk mendapati sebuah pengetahuan yang teruji kebenarannya, baik secara pengalaman indrawi maupun rasionalitas akal pikiran manusia itu sendiri.

Kemudian atas kelebihan serta keunggulan yang dimiliki oleh manusia untuk mencapai sebuah kebenaran pengetahuan ini, terkadang berujung pada pendapat bahwa 'manusia sebagai pusat kehidupan', setelah anggapan sebelumnya yakni alam sebagai pusat kehidupan. Pendapat manusia sebagai pusat kehidupan inilah yang menjadi batu loncatan selanjutnya, yakni kajian-kajian tentang manusia yang tentunya selalu menghasilkan kesimpulan betapa terbatasnya indra dan pengalaman manusia dalam memproduksi suatu jawaban kebenaran di luar jangkauan nalarnya. 

Kemudian dari kemandekan jawaban itu, manusia kemudian mencari kekuatan yang lebih tinggi untuk menjelaskan persoalan yang tidak terjawab melalui akal maupun pengalaman itu Pada titik puncak inilah yang membuat manusia menghadirkan keyakinan tentang adanya Tuhan, di sinilah instrumen hati bekerja.

Dan untuk menguatkan hati sehingga dapat mengarungi lautan persoalan yang tidak dijelaskan itu, maka manusia kemudian melanjutkan perjalanannya dengan menetapkan 'Tuhan sebagai pusat kehidupan', dan menoleh ke arah kitab-kitab agama yang membicarakan Tuhan dan semesta termasuk manusia didalamnya. Dengan begitu manusia lebih-lebihnya memperoleh informasi kebenaran atau pengetahuan dari tiga sisi instrumen (alat) yang dimiliki yakni Akal, Indera dan Hati.


Demikianlah penjelasan secara gamblang dari bagaimana manusia memperoleh pengetahuan, dan sebagai informasi akhir, tulisan ini merupakan rangkuman materi dan tanya jawab dari diskusi teman-teman HPMS Cabang Sulut, yang bertemakan: sejarah manusia dalam memperoleh pengetahuan.

Sumber https://www.atomenulis.com/