Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemikiran Fenomenalogi Versi Max Scheler

Bagi orang yang mendalami fenomenalogi tentunya mengenali seorang Max Scheler. Max Scheler merupakan seorang filsuf yang memiliki pengaruh dalam bidang Fenomenologi, Filsafat Sosial beserta sosiologi pengetahuan. Max Schaler juga dikenal sebagai salah satu pendiri lingkaran Fenomenalog Munich, yang didalamnya terdapat nama-nama filsuf besar lainnya seperti, Maximilian Beck, Herbert Leyendecker, Hedwig Martius, Dietrich Von Hildebrand, Theodor Conrad, Moritz Geiger dan Alexander Pfander.

Filsuf yang lahir pada 22 Agustus 1874 di Munchen, Jerman ini, dikenal atas jasanya yang memperluaskan kajian Fenomenologi dari pandangan Edmund Huusserl yang mengatakan bahwa. Fenomenologinya berfokus pada refleksi sistematis dengan studi struktur kesadaran dan fenomena yang tampak pada pikiran. karena pada dasarnya akal budi manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan terobosan dengan menengahi batas-batas pengalaman sehari-hari. 

Sebelum itu, manusia sendiri juga memiliki rasa ingin tahu yang membuatnya berkembang, sehingga dari itu semua melatarbelakangi manusia untuk berfilsafat. Maka pemahaman tentang realitas secara fisik sebenarnya tidaklah cukup sebagai hasil dari pengamatan yang memuaskan keinginantahuan manusia. Dan dari banyaknya pertanyaan serta persoalan yang tidak dapat dipecahkan lewat pengamatan itu sehingga membuat manusia lalu mengusahakan penjelasan yang bersifat mengatasi fisik (metafisik).

Sedangkan fenomenologi menurut pendapat seorang Max Schaler adalah sikap pengamatan spritual (bukan hanya refleksi) yang membuat orang dapat melihat dan mengalami sesuatu realitas dari fakta-fakta jenis khusus yang akan tetap tersembunyi tanpa sikap tersebut. Hal ini terlebih disebabkan Fenomenologi yang merupakan sikap serta prosedur pengamatan terhadap fakta-fakta baru yang tengah dihadapi sebelum adanya proses pemikiran secara logis untuk menghasilkan kesimpulan.

Lebih jauh, Fenomenologi dalam pandangan Max Schaler berbeda dengan dan bertentangan dengan empirisme yang dimana hanya membatasi pengalaman hanyalah pada pengalaman inderawi, sebab bagi Max Schaler, pengalaman yang dipahami Fenomenologi bukan berlandaskan dengan benda-benda jenis apapun dan lebih kepada berdasarkan suatu fakta khusus, karena fakta menurut Max Schaler punya peran penting dalam pengalaman Fenomenologi. Berkaitan dengan pendapat Max Schaler diatas, ia kemudian membagi fakta dalam 3 jenis yaitu, Pertama, Fakta Natural, kedua, Fakta Ilmiah dan ketiga, Fakta Fenomenologis.

1. Fakta Natural


Fakta Natural merupakan fakta yang berlandaskan pengenalan inderawi yang lebih menfalami benda-benda bersifat kongkrit. Biasanya, fakta jenis ini hanya muncul dalam pengalaman biasa atau pengalaman sehari-hari manusia.

2. Fakta Ilmiah


Fakta Ilmiah sendiri merupakan fakta yang mulai melepaskan diri dari pengenalan inderawi yang langsung dan lebih kepada fakta yang semakin abstrak. dengan begitu, fakta ilmiah dapat digunakan sebagai suatu formula simbolis yang dapat diperhitungkan dan dimanipulasi sehingga kaitannya dengan realitas inderawi sangat menipis.

3. Fakta Fenomenologi


Fakta terakhir ini merupakan fakta yang berfokus pada makna intuitif atau hakekat yang diberikan dalam pengalaman langsung serta tidak tergantung dari yang ada atau tidaknya dalam realitas, tapi dari luar. Dengan kata lain fakta jenis ini adalah fakta yang dipahami sebagai isi dari intuisi langsung yang disebut Fenomena. Istilah fenomena sendiri yang diuraikan oleh Max Scheler tidak dimaksudkan seperti sebuah penampakan dari suatu yang nyata, akan tetapi lebih sebagai sesuatu esensi yang ditangkap melalui Intuisi Fenomenologis atau Pengetahuan tentang esensi.

Dengan demikian, fenomenalogi bukan hanya metode tetapi perilaku. Dimana perilaku fenomenalogi tidak menegasi pengetahuan praktis ataupun saintifik, akan tetapi lebih kepada menunda keputusan, penundaan ini biasanya digerakkan oleh cinta akan dunia demi menemukan makna terlebih dahulu. 


Maka dari itu, fenomenologi Scheler mengasumsikan adanya rasa percaya kepada pengalaman dan terhadap dunia. Sebab dunia memberikan dirinya kepada intuisi dan memberi isyarat kepada setiap kita berpartisipasi lebih fokus pada maknanya. Terlebih melalui kepercayaan ini, sikap fenomenalogi adalah ekspresi akan kepercayaan dan pencarian agar mendiskriminasikan objek sebagaimana adanya dan sebagaimana itu diberikan kepada kita. Terima kasih.

Sumber https://www.atomenulis.com/