Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Perkembangan Filsafat Abad Modern

Pemahaman awal renaissance yaitu humanisme dimana pandangan ini menganggap bahwa manusia memiliki kemampuan mengatur dirinya, berlandaskan kemampuan rasio dan empiris. Artinya era renaissance berhasil membangun gerakan maupun cara berpikir individualisme yang berangkat dari konsep humanisme itu. Dan menurut saya inilah titik puncak pencapaian secara konseptual yang dilakukan oleh tokoh-tokoh renaissance.

Nah, berkaitan dengan zaman sesudahnya, yakni zaman modern yang disebut dengan masa perkembangan pada sains dan penemuan-penemuan dari hasil pengembangan sains itu sendiri yang kemudian berimplikasi semakin ditinggalkannya gereja secara keseluruhan, dan fenomena tersebut begitu tampak pada abad modern.

Secara keseluruhan zaman modern merupakan zaman tegaknya corak pemikiran filsafat yang berorientasi pada antroposentrisme, dimana manusia menjadi pusat perhatian. Berbeda halnya dari masa Yunani dan abad pertengahan filsafat yang selalu mencari substansi prinsip induk dari seluruh kenyataan. Dimana para filsuf-filsuf Yunani menemukan unsur-unsur kosmologi sebagai prinsip induk segala sesuatu yang ada, sementara para tokoh abad pertengahan, mengemukakan unsur-unsur Tuhan dan menjadikannya prinsip bagi segala yang ada.

Sedangkan pada zaman modern, peranan substansi diambil alih oleh manusia sebagai subjek yang terletak di bawah seluruh kenyataan dan memikul seluruh kenyataan yang melingkupinya. Oleh sebab itu zaman modern sering kali disebut zaman pembentukan subjektivitas, karena keseluruhan sejarah filsafat zaman modern memiliki satu mata rantai perkembangan pemikiran mengenai subjektivitas. Dimana semua filsuf zaman modern menyelidiki segi- segi subjek manusiawi. dengan kata lain, Aku sebagai pusat pemikiran, pusat pengamatan, pusat tindakan, pusat kehendak, pusat kebebasan dan pusat perasaan.

Filsuf paling awal yang meletakkan dasar-dasar filsafat modern dengan cara menyelidiki subjektivitas manusia dengan pendekatan rasio adalah Rene Descartes. Diketahui melalui Descartes-lah corak kemodernan sungguh hidup dan kemudian diikuti oleh filsuf sesudahnya dengan pengembangan aliran-aliran dan pendekatan filsafat lain seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme, pragmatisme, idealisme dan eksistensialisme sampai muncul filsafat analitik menggugat persoalan kaidah-kaidah bahasa dan penafsiran terhadap teks-teks dan bahasa.

Lebih tepatnya di abad ke-16, Eropa memasuki babak yang menentukan perkembangan filsafatnya disaat Descartes, Spinoza dan Leibniz berusaha menyusun suatu sistem filsafat dengan dunia yang berpikir pada pusatnya, tidak lain dan tidak bukan adalah sistem berpikir rasional atau rasionalisme. Rasionalisme merupakan paham yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan menguji pengetahuan. 

Rasionalisme pada hakikatnya ada bidang, yaitu bidang agama dan filsafat. Dalam agama rasionalisme dipakai untuk melawan autoritas, mengkritik ajaran agama. sementara dalam filsafat, rasionalisme digunakan untuk sebagai teori pengetahuan dan melawan empirisme. Maksud dari penerapan sistem ini adalah dianutnya kembali rasionalisme seperti pada masa Yunani kuno

Dalam perkembangan filsafat di zaman modern juga terdapat paham yang berlawanan dengan rasionalisme ialah empirisme. Empirisme adalah aliran yang lebih menekankan peranan pengalaman dan mengecilkan peran akan dalam memperoleh pengetahuan. Sebagai suatu doktrin, empirisme mengembangkan dua teori yakni.

Pertama teori tentang Makna yang dikemukakan oleh filsuf John Locke, melalui bukunya yang berjudul An Essay Concerning Human Understanding. Dimana Locke menolak ide bawaan (innate idea) yang dikemukakan rasionalisme Rene Descartes.

Kedua, teori pengetahuan. Dalam hal ini kaum rasionalisme mengakui ada beberapa kebenaran umum dan setiap kejadian memiliki sebab seperti dasar-dasar matematika serta beberapa prinsip dasar etika yang dikenal dengan istilah Apriori "pengetahuan bawaan" yang diperoleh melalui institusi rasional. Empirisme menolak pendapat seperti ini, sebab menurut Locke, Hume dan Spencer, dalam memperoleh kebenaran "pengetahuan" Bagi empirisme kebenaran hanya didapatkan secara aposteriori atau melalui observasi.

Namun pada abad ke-20 kaum empirisme lebih menggunakan teori makna pada penentuan apakah suatu konsep diterapkan dengan benar atau tidak dan berdekatan dengan positivisme logis. Oleh karena itu bagi penganut empirisme jiwa, makna dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai jumlah yang dapat diinderao dan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama.


Terakhir, semua itu terlihat jelas begitu ekslusif antar kedua aliran ini dalam perkembangan awal filsafat modern. Tetapi jangan salah dibalik pertentangan itu melahirkan berbagai aliran-aliran lain seperti kritisisme, pragmatisme, idealisme, eksistensialisme dan aliran filsafat analitik yang mengeksplorasi filsafat di zaman modern.

Sumber https://www.atomenulis.com/