Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Unik Lahirnya Aliran Filsafat Positivisme, Fenomenalogi, Pragmatisme dan Eksistensialisme

Perkembangan filsafat idealisme yang menyetarakan realitas seluruhnya dengan roh atau rasio menuai pesimisme dengan lahirnya positivisme. Aliran ini mulanya dikembangkan oleh A. Conte, menurut positivisme pengetahuan tidak pernah boleh melebihi fakta-fakta, maka untuk itu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa bagi aliran ini, sehingga mereka menolak metafisika dan mengutamakan pengalaman, meskipun positivisme mengandalkan pengalaman untuk mendapatkan pengetahuan, namun mereka membatasi diri pada pengalaman objektif saja.

Aliran Positivisme pada diketahui pertengahan abad ke 20, dimana ilmu pengetahuan positif berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Dan diikuti dengan salah satu metode kritis yang berkembang pada waktu itu yaitu munculnya filsafat Fenomenalogi sebagai sumber berpikir kritis. Fenomenalogi adalah metode yang dikembangkan oleh Edmund Husserl berdasarkan ide-ide yang bersumber dari gurunya Franz Bretano.

Terlebih menurut Husserl bahwa objek harus diberi kesempatan untuk berbicara, yaitu dengan cara deskripsi Fenomenalogi yang didukung oleh metode deduktif, tujuannya adalah untuk melihat hakikat gejala – gejala secara intuitif. Sedangkan metode deduktif mengkhayalkan fenomena berbeda, sehingga akan terlihat atas invariable dalam situasi yang berbeda.

Kemudian di Amerika, kala itu juga bermunculan salah satu aliran filsafat berkembang adalah aliran pragmatisme. Pokok ajaran ini ialah mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dan bermanfaat secara praktis. Dimana ide aliran ini berasal dari William James, pemikiran James pada awalnya sederhana karena James melihat bahwa telah terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dengan agama sehingga tujuan kebenaran orang Amerika kala itu dinilainya terlalu teoritis, sedangkan dirinya menginginkan hasil yang kongkret, maka untuk menemukan esensi tersebut,. Menurut James harus diselidiki berdiri konsekuensi praktisnya.

Kemudian aliran ini selanjutnya dikembangkan oleh John Dewey, menurut Dewey filsafat tidak boleh berada dalam pemikiran metafisika yang tidak ada manfaatnya. Dengan demikian filsafat harus berdasarkan pada pengalaman, kemudian mengadakan penyelidikan dan mengolahnya secara kritis sehingga filsafat dapat membentuk sistem norma dan nilai-nilai.

Nah berlanjut pada aliran Eksistensoialisme. Dimana kelahiran ini membuktikan bahwa filsafat kadang kala lahir tidak selamanya dalam keadaan normal, salah satunya adalah eksistensialisme. Sebab awal kemunculannya eksistensialisme berangkat dari suatu krisis kemanusiaan akibat perang dunia I terutama di Eropa barat. Yang fokus dalam bidang filsafat eksistensialisme ialah mengkritik paham materialisme yang menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa manjadi subjek.

Padahal menurut eksistensialisme, manusia berpikir dan berkesadaran. Inilah kenyataan yang tidak disadari oleh materialisme menurut eksistensialisme. Akibatnya manusia dalam pandangan materialisme selalu menjadi objek. Sementara eksistensialisme sebaliknya, berpikir dan berkesadaran dilebih-lebihkan sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih+lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran. Dengan kata lain, Eksistensialisme dalam hal ini, hanya memandang manusia sebagai subjek.

Eksistensialisme sendiri adalah Aliran filsafat yang dikembangkan oleh Soren Kierkegaard kemudian diteruskan oleh Jean Paul Sarte, yang lahir dari suatu krisis, krisis berarti penentuan, bila terjadi krisis, orang biasanya meninjau kembali pangkal dasar sebelumnya dan mencoba apakah dapat dipertahankan dalam pengujiannya. Dengan demikian filsafat adalah rangkaian perjalanan dari satu krisis lain. Yang juga berarti bahwa manusia yang berfilsafat senantiasa meninjau kembali eksistensi dirinya dan alam di sekitarnya.


Sebab menurut eksistensialisme, filsafat sejak Thales sudah mempersoalkan alam sekitarnya. Dan kemudian pada zaman Socrates, Plato dan Aristoteles perihal yang dipertanyakan meningkat jauh yakni mempertanyakan eksistensi manusia, meskipun eksistensi manusia yang tinggi pada Yunani kuno kurang mendapat perhatian abad pertengahan.

Sumber https://www.atomenulis.com/