Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tuhan Dalam Pandangan Michel Montaigne

Sebelumnya kita telah membahas gambaran umum tentang seorang Montaigne. Nah sekarang kita kembali membahas tentang pemikiran Montaigne namun lebih spesifik membicarakan terkait Tuhan dan Filsafat yang dikemukakan langsung lewat pendapat seorang Montaigne.

Berkaitan dengan topik Tuhan dan Filsafat, Montaigne sendiri dengan jelas mengidentifikasi sekaligus menerangkan dirinya sebagai seorang agnostik. Ungkapan yang di ungkapkan begitu jelas menampilkan sisi agnostiknya yaitu sebagai berikut, ' Saya tidak bisa mengatakan apa-apa tentang Tuhan, saya tidak memiliki pengalaman seperti itu '.

Dan menurutnya jika kita tidak memiliki pengalaman tentang Tuhan, maka dalam hidup kita pertama-tama harus dibimbing oleh pikiran atau akal sendiri. baginya, mereka sebagian orang selalu mengatakan bahwa pendapat mereka adalah yang terbaik, sehingga mereka mencoba memaksakan orang lain agar menaati mereka, sebenarnya mereka tidak pantas dihormati. Oleh sebab itu, lebih baik untuk menghindari fanatisme dan menyamakan semua agama dengan hak-hak dalam kehidupan.

Maka menurut Montaigne, Filsafat harus mendorong seseorang untuk menjalani kehidupan yang baik dan mengikuti kebiasaan baik, dan tidak menjadi seperti peti mati serta tidak menjadi yang tidak dapat dipahami oleh sebagian besar orang.

Montaigne mengatakan bahwa seseorang yang demikian harus menjadi filosofis jika tidak dapat mengubah situasi. Dan untuk mengurangi penderitaan anda perlu memikirkan keadaan ketika kesenangan lebih dirasakan dan rasa rasa sakit lebih lemah. Sebab setiap perubahan kekuasaan pasti akan mengarah ke masalah lebih besar.

Alasan dibalik Montaigne mengabdikan banyak pemikiran untuk membesarkan generasi baru. Di bidang ini, Montaigne mengikuti semua ciri pemikiran yang dibangun di masa Renaissance. Dimana pandangan bahwa seseorang tidak boleh menjadi spesialis yang sempit, tetapi setiap orang harus serba bisa dan dalam hal apa pun tidak fanatik. Ini semua tidak terlepas dari sudut pandangnya.

Terlebih diketahui Michel Montaigne memiliki pedagoginya adalah seni mengembangkan kemauan yang kuat serta karakter yang kuat dalam diri seorang anak, yang memungkinkan mereka untuk menanggung perubahan nasib dan mendapatkan kesenangan maksimal.

Hal inilah pulalah yang mendasari kritik dan tantangannya kepada skolastik dan dogmatis, pandangannya ini tertuang dalam karyanya yang berjudul 'Eksperimen" (1580-1588), karena menganggap manusia sebagai nilai terbesar.

Nah, pada dasarnya terkait pemikiran Montaigne mengenai Tuhan, dapat dikatakan merupakan bawaan era yang melatarbelakangi yaitu era renaissance, yang jelas di jaman itu agama (Tuhan) di anggap telah menelanjangi kebebasan manusia, namun ketika kita melihat dari arah masa depan sekarang maka pandangan itu telah melebur menjadi debu yang telah terhembus menjauh hingga memperlihatkan faktanya, dimana kita telah menyadari bahwa di era tersebut kesalahan semestinya ditumpahkan kepada oknum agamis yang berusaha melegitimasi bahasa Tuhan dengan segala bentuk kepentingan yang mendukung.


Terakhir sebagai gambaran penulis, pada uraian di atas dapat kita lihat demikianlah Tuhan dalam perspektif Montaigne, namun sayangnya tidak semua dapat dikatakan benar atau sejalan dengan keinginan semuanya. Maka semua dikembalikan kepada setiap pembaca dalam menyikapinya. Poin saya adalah hanya ingin menambah referensi yang kebetulan berangkat dari perspektif Montaigne.

Sumber https://www.atomenulis.com/