Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Esensi Dibalik Tujuan Pergerakan HmI

Merujuk pada konstitusi HMI, perkaderan yang dilakukan HMI harus diorientasikan pada pergulatan visi tentang Indonesia yang ideal. itu artinya nafas intelektualisme harus tetap ada dalam HMI sehingga wacana untuk mentransformasi nilai-nilai keislaman kedalam kehidupan bangsa dan kemudian menjadi nilai bersama yang dipeluk oleh masyarakat dapat tercapai

Pada dasarnya, pembentukan sikap keindonesiaan merupakan tugas kemusliman, begitu juga dengan pergulatan dan perjuangan untuk mencapai demokratisasi mesti melekat erat dalam gerak HMI. karena hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada satu pun proses transformasi sosial di berbagai Negara di belahan dunia ini terjadi tanpa keterlibatan kaum muda. Kaum muda terutama sektor mahasiswa sebagaimana ungkapan, Adi Suyadi Culla. Bahwa Pemuda memang menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Sejalan dengan itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi perkaderan dan pergerakan adalah bagian dari fragmen cerita tentang kepeloporan kaum muda mahasiswa. Bagi HMI, masyarakat sipil adalah ikon masyarakat yang ingin diakuisisi ke dalam upaya Membela, memberdayakan serta memandirikannya dipandang sebagai tanggung jawab sosial yang mutlak untuk ditunaikan setiap kader hmi. Hal ini setidaknya pernah dilakukan pada tahapan maksimal selama orde baru. 

Dimama peran partisipasi dan bahkan eksistensinya mengaung keras meskipun dikala itu sengaja dilemahkan oleh rezim yang berkuasa. dimana hampir semua negara memang dilakukan bukan tanpa alasan, mengingat pengalaman di sejumlah Negara, kekuatan Civil Society. senantiasa menjadi ancaman bagi status quo. ditambah beringas ketika masyarakat sipil tersebut berada dalam kondisi yang relatif kuat dan mandiri, maka tentunya ancamannya semakin besar pula.

Maka dengan kenyataan tersebut, HMI kemudian mengambil langkah menseriusi persoalan masyarakat sipil ini. dan akhirnya dengan berani mengambil peran demi memperjuangkan kedaulatan dan menegakkan hak-hak mereka. Mobilisasi gerakan ini tentunya bukanlah perkara main-main dan atau untuk sekedar “tampil beda” saja. Sekali lagi tidak. karena menurut hmi, hal ini tidak lain adalah misi profetik yang dahulu pernah diemban oleh para nabi yang suci, termasuk Rasulullan Saw dan sekarang, Hmi Sebagai organisasi kader yang menjiwai sifat kekhalifaan mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan perubahan yang mengarah kepada tercapainya tujuan HMI, yaitu terwujudnya masyarakat yang diridhoi Allah SWT.

Terlebih Hmi mencanangkan progres seperti Sebagaimana Ali Syariati, yang memandang Islam adalah agama pembebas, agama yang menghendaki terjadinya transformasi masyarakat ke arah kemerdekaan, keadilan, kemanusian dan kebenaran. HMI mengambil langkah gerakan secara masif agenda penguatan Civil Society dapat dilakukan HMI paling tidak, melalui aksi-aksi kultural (cultural action) berupa:

Pertama, pencerahan. agenda ini dilakukan dalam rangka mengajak segenap elemen masyarakat untuk dapat berfikir lebih kritis, memahami posisi dan peran mereka sebagai warga Negara dan menjadi pelaku aktif (partisipatif) dalam setiap proses pengambilan dan putusan kebijakan, utamanya yang menyangkut hajat orang banyak. gerakan pencerahan sosial ini kiranya penting untuk dicanangkan, mengingat, salah satu problem besar yang menghambat penegakkan demokrasi di Indonesia dewasa ini, diantaranya adalah belum tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat. sebab kesadaran kritis ini penting dalam rangka membangun pola hubungan yang rasional, sederajat dan saling menghargai antara masyarakat sipil dengan masyarakat politik, tanpa harus terjadi penindasan satu sama lain.

Dan gerakan kedua ialah, melakukan pembelaan terhadap hak-hak masyarakat. Sebab masyarakat sebagai satu entitas sosial yang tidak jarang diposisikan secara diskriminatif oleh Negara harus menjadi segmen garap pembelaan HMI baik secara ekonomi, politik, sosial, hukum, intelektual, budaya, maupun spiritual. maka sudah tentu harus ada semacam ikhtiar kolektif HMI untuk mengangkat harkat dan martabat setiap entitas sosial agar tidak selamanya mengalami pendzaliman struktural. 

Dilain sisi, mendapatkan akses dan peran yang lebih baik dalam kehidupan demokrasi di Negara kita. Hingga akhirnya, aksi-aksi kultural ini tentunya akan menjadi sangat bermanfaat bagi upaya penguatan civil society jika dilakukan secara simultan dan sistematis, hingga benar-benar memiliki kemandirian dalam semua dimensi kehidupan.


Dan jikalau kedua tujuan ini telah tercapai maka tujuan mentransformasikan nilai-nilai islam sebagai kepemilikan bersama dapat tercapai, namun HMI tidak mestinya merasa bangga diri karena pencapaian itu harus tetap dikawal dengan langkah-langkah persuasif dan kritis. Sebab secara hakiki tujuan dan perjuangan HMI tidak akan memiliki tepi karena membicarakan sosial masyarakat bersifat masif dan terkadang tak terbaca oleh manusia itu sendiri.

Sumber https://www.atomenulis.com/