Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Analisis Kritis terkait Problem Bangsa Terbaru

Kata orang, problem-problem bangsa dapat di lihat pada kondisi masyarakatnya, dan itu jelas karena masyarakat adalah representasi dari suatu bangsa. Nah bagaimana dengan problem bangsa akhir-akhir ini? tentu banyak. Namun coba kita pilih berdasarkan ukuran dari dampaknya problem itu.

Problem masyarakat yang paling berdampak besar menurut saya ialah Problem pendidikan, kenapa pendidikan karena kualitas pendidikan (bukan strata) yang membuat seseorang yang di didik dapat bersaing dengan kondisi dunia saat ini. Pendidikan yang berkualitas setidaknya menjanjikan seseorang membuat atau mencari tempat mendapatkan rangkaian penghasilan atau pendapatannya. kenapa? sebab seperti yang kita ketahui bersama bahwa dunia kontemporer hampir 80 persen menganut sistem pasar bebas, dan kebebasan itu menuntut seseorang untuk kreatif.

Adapun memanfaatkan kelebihan dibidang pendidikan (titel), adalah kondisi yang sangat diragukan untuk dapat pekerjaan yang layak, terlebih dunia yang terkoneksi dan sistem kerja sama, baik swasta maupun negara, menjadikan syarat untuk mendapatkan pekerjaan pada sebuah perusahaan, bukan hanya ditentukan oleh dalam negeri tapi juga dari luar.

Selebihnya kualitas pendidikan yang baik menentukan seseorang dapat memanfaatkan keberadaan teknologi yang digadang-gadang menjadi platfrom bagi generasi akan datang dalam menggapai masa depannya. Memang harus diakui bahwa Indonesia telah mulai menyadari keberadaan teknologi itu, namun sayangnya arus perkembangan teknologi itu diimbangi dengan penerapan pendidikan untuk mengolah itu. Kenapa begitu, sadarkah anda bila pelajaran mengenai teknologi informasi tidak begitu berjalan baik secara keseluruhan. Sekarang mungkin iya pendidikan mulai berbasis digital, tapi menurut hemat saya jika tidak adanya pandemi Covid, sekolah-sekolah belum menggunakan daring dan siswa hanya mengenal yang namanya laptop, komputer tapi tidak tahu mengoperasikannya.

Problem kedua adalah kurang minat baca, taruhlah dalam upaya memanfaatkan teknologi atau upaya untuk melek teknologi telah berlangsung, namun lagi-lagi hal ini seperti pepatah menggali lubang tutup lubang, kenapa karena mengkampanyekan digitalisasi tetapi ketimpangan di minat baca, anak-anak maupun remaja hingga dewasa di Indonesia sekarang terserang phobia, phobia apa? Phobia tik-tok dan game online.

Kondisi ini pada dasarnya menguntungkan di satu sisi namun merugikan dari sisi yang banyak, kenapa menguntungkan dan merugikan? karena lewat aplikasi itu ada yang mendapatkan penghasilan seperti kumpulan Tiktokers dan Gamers, namun meruginya yang banyak karena berapa banyak si yang menjadi tiktoker dan gamers? dan berapa banyak yang hanya main-main dan melupakan hal penting lainnya? angka-angka diwilayah inilah yang tidak di komparasikan, akibatnya pendidikan atau terlebih khusus minat baca menjadi agenda atau kampanye yang menguap mengudara begitu saja.

Mengutip dari Kominfo.go.id, Bahwa UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia atau sangat memprihatinkan karen hanya 0,001% dari 1,000 orang di Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca, artinya minat baca di Indonesia sangat rendah.

Tentu harus diakui hal ini membutuhkan proses, namun proses ini bukanlah proses alamiah seperti pohon yang mati namun akan ada tunas baru yang tumbuh dengan seleksi alam sendiri. setidaknya harus ada upaya mengerialisasi kondisi ini dengan baik. Hutan yang alamiah saja bisa dilakukan proses pengembangan dengan baik, kok membangun proyek masa depan bangsa saja kok lambat. 


Jelas alam dan manusia itu berbeda secara hubungan sosial namun sosial bisa direkayasa, guna apa memiliki pemerintahan, guna apa memiliki sistem kontrol, guna apa memiliki banyak ahli jika tidak bisa merencanakan jangka panjang. Saya pikir sebelum kita membahas lebih lanjut kepada problem bangsa lain seperti ekonomi, hukum dan politik maka sebaiknya kita benahi dulu sistem pendidikannya yang terkonsep dan terencana dengan baik.

Sumber https://www.atomenulis.com/